PASURUAN â Puncak musim kemarau mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan. Sebanyak 2.568 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di Kecamatan Pasrepan dan Kecamatan Lumbang pada Rabu, 2 September 2026.
Data tersebut tercatat dalam laporan Pusdalops BPBD Kabupaten Pasuruan periode pukul 07.00 hingga 19.00 WIB. Kekeringan dilaporkan terjadi di enam dusun di Kecamatan Pasrepan dan enam dusun di Kecamatan Lumbang.
Kondisi kekeringan terjadi akibat puncak musim kemarau yang menyebabkan ketersediaan air bersih mulai berkurang. Tidak ada kerusakan maupun kerugian material yang dilaporkan akibat kejadian tersebut.
Lumbang Jadi Wilayah Terdampak Terbesar
Dari dua kecamatan yang terdampak, Lumbang mencatat jumlah KK terdampak paling besar, yakni 1.467 KK.
Kekeringan melanda Desa Karangjati, Desa Pancur, dan Desa Watulumbung. Di Desa Karangjati, sebanyak 363 KK di Dusun Jatisari dan 467 KK di Dusun Krajan Timur terdampak.
Sementara di Desa Pancur, kekeringan berdampak pada 90 KK di Dusun Watubiting Utara dan 137 KK di Dusun Watubiting Selatan.
Adapun di Desa Watulumbung, tercatat 240 KK terdampak di Dusun Krajan 3 dan 170 KK di Dusun Krajan 1.
Dusun Krajan Timur menjadi lokasi dengan jumlah KK terdampak terbesar dalam laporan tersebut, mencapai 467 KK.
Pasrepan 1.101 KK Terdampak
Di Kecamatan Pasrepan, kekeringan berdampak pada 1.101 KK yang tersebar di Desa Klakah, Ngantungan, dan Sibon.
Rinciannya, Desa Klakah mencatat 221 KK terdampak di Dusun Precet dan 156 KK di Dusun Watudukun. Kemudian Desa Ngantungan mencatat 20 KK di Dusun Daren dan 156 KK di Dusun Sentono.
Dampak cukup besar juga terjadi di Desa Sibon. Masing-masing 274 KK terdampak di Dusun Dongol dan Dusun Karangpocok.
BPBD Salurkan 12 Rit Air Bersih
Menghadapi kondisi tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama perangkat setempat melakukan distribusi air bersih.
Di masing-masing kecamatan, distribusi dilakukan sebanyak enam ritase. Dengan demikian, total distribusi air bersih yang tercatat dalam laporan mencapai 12 ritase untuk dua kecamatan terdampak.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, SE., MM., mengatakan penanganan kekeringan dilakukan dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya kebutuhan air bersih di wilayah yang mengalami penurunan ketersediaan air.
âKami terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang mengalami kekurangan air bersih. Distribusi air bersih dilakukan sebagai langkah penanganan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, dan kondisi di lapangan akan terus kami evaluasi sesuai perkembangan,â ujar Sugeng Hariyadi.
Menurutnya, koordinasi dengan perangkat wilayah menjadi bagian penting dalam penanganan kekeringan, terutama untuk mengetahui kondisi terkini masyarakat dan sumber air di masing-masing lokasi.
âData masyarakat terdampak dan kondisi sumber air terus menjadi perhatian dalam menentukan langkah penanganan berikutnya. Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan segera berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun kecamatan apabila kondisi ketersediaan air semakin menurun,â tambahnya.
Cuaca Masih Didominasi Cerah
Ancaman kekeringan berpotensi masih berlanjut. Prakiraan cuaca Kabupaten Pasuruan untuk 3-5 September 2026 masih menunjukkan dominasi kondisi cerah.
Pada 3 September, suhu diprakirakan berada pada kisaran 20-32 derajat Celsius. Pada 4 September berkisar 20-30 derajat Celsius, sedangkan pada 5 September berkisar 20-31 derajat Celsius.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena pemulihan sumber air secara alami sangat bergantung pada kondisi hujan.
Shift Malam Nihil Kejadian Baru
Sementara itu, situasi pada malam hari hingga Kamis pagi relatif kondusif. Laporan Pusdalops BPBD periode 2 September pukul 19.00 WIB hingga 3 September pukul 07.00 WIB mencatat nihil kejadian bencana maupun kejadian lain-lain.
Artinya, tidak terdapat penambahan kejadian bencana baru yang dilaporkan selama periode tersebut.
Gunung Bromo Tetap Level II
Dari sisi aktivitas gunung api, Gunung Bromo masih berada pada status Waspada atau Level II, sedangkan Gunung Arjuno-Welirang berada pada status Normal atau Level I.
Pusdalops juga melaporkan tidak adanya peningkatan aktivitas vulkanisme gunung api selama periode pemantauan.
Pemantauan titik panas atau hotspot juga menunjukkan hasil nihil. Tidak ditemukan titik panas berdasarkan pemantauan sensor satelit MODIS dari Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA20 pada periode laporan malam hingga pagi.
Perairan Pasuruan Relatif Aman
Kondisi perairan Pasuruan juga relatif terkendali. Kecepatan angin berada pada kisaran 6-13 knot, sedangkan tinggi gelombang berkisar 0,50-1,10 meter dengan klasifikasi rendah.
Tidak terdapat peringatan dini gelombang tinggi pada periode tersebut.
Kekeringan Jadi Perhatian Utama
Secara umum, situasi kebencanaan Kabupaten Pasuruan pada malam hingga pagi hari relatif terkendali karena tidak terdapat kejadian baru. Meski demikian, kekeringan masih menjadi perhatian utama, mengingat dampaknya telah mencapai 2.568 KK dan kondisi kemarau masih berlangsung.
Kecamatan Lumbang menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, yakni 1.467 KK, sementara Kecamatan Pasrepan mencatat 1.101 KK terdampak.
BPBD Kabupaten Pasuruan akan terus melakukan pemantauan dan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Distribusi air bersih dapat dilakukan secara berkelanjutan apabila ketersediaan air masyarakat masih mengalami penurunan.
Masyarakat di wilayah terdampak juga diharapkan dapat menggunakan air secara bijak serta menyampaikan informasi kepada pemerintah desa atau kecamatan apabila kondisi sumber air semakin menurun.
Dengan koordinasi dan pemantauan yang berkelanjutan, penanganan diharapkan dapat tetap tepat sasaran sekaligus mengantisipasi kemungkinan meluasnya dampak kekeringan selama musim kemarau.
Komentar (0)