PASURUAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan terus memperkuat kesiapsiagaan dan penanganan berbagai potensi bencana di wilayah Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Pasuruan periode Senin, 31 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB hingga Selasa, 1 September 2026 pukul 07.00 WIB, terdapat sejumlah kejadian yang menjadi perhatian, terutama kekeringan di Kecamatan Pasrepan dan Lumbang, laka air di Perairan Pasuruan, serta pemantauan karhutla Gunung Arjuno-Welirang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun tidak terdapat peringatan dini cuaca ekstrem maupun titik panas berdasarkan pemantauan satelit, BPBD Kabupaten Pasuruan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hidrometeorologi yang berkembang selama periode musim kemarau.
Kekeringan Meluas di Pasrepan dan Lumbang
Ancaman yang paling dominan dalam laporan kali ini adalah kekeringan dan menurunnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan.
Di Kecamatan Pasrepan, kekeringan dilaporkan terjadi di Desa Sibon Dusun Karangpocok, Desa Petung Dusun Precet/Tegal Anyar, serta Desa Ngantungan Dusun Watugentong dan Sentono.
Berdasarkan laporan Pusdalops, jumlah masyarakat terdampak tercatat sebanyak 978 KK di Dusun Karangpocok Desa Sibon, 225 KK di Dusun Precet/Tegal Anyar Desa Petung, dan 257 KK di Dusun Watugentong dan Sentono Desa Ngantungan. Dengan demikian, berdasarkan data yang tercantum dalam laporan, sedikitnya 1.460 KK terdampak kekurangan air bersih di Kecamatan Pasrepan.
Kondisi tersebut dipicu oleh puncak musim kemarau yang menyebabkan ketersediaan air bersih masyarakat mulai berkurang. Sebagai langkah penanganan, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Pasuruan telah melakukan distribusi air bersih sebanyak enam ritase dengan melibatkan koordinasi bersama perangkat setempat.
Sementara itu, di Kecamatan Lumbang, kekeringan dilaporkan terjadi di Desa Watulumbung Dusun Krajan 3 dan Krajan 2, Desa Karangjati Dusun Krajan Barat dan Jatisari, serta Desa Pancur Dusun Watubiting.
Data yang tercantum dalam laporan menunjukkan sebanyak 170 KK terdampak di Desa Watulumbung dan 389 KK di Desa Karangjati, sementara jumlah KK terdampak di Desa Pancur belum tercantum secara lengkap. TRC BPBD juga melakukan distribusi air bersih sebanyak enam ritase.
Jika hanya berdasarkan jumlah KK yang tercatat lengkap, terdapat sedikitnya 2.019 KK terdampak kekeringan di Kecamatan Pasrepan dan Lumbang.
BPBD Fokus Memastikan Kebutuhan Air Masyarakat Terpenuhi
Kekeringan menjadi perhatian serius karena dampaknya bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Penurunan ketersediaan air tidak hanya berpengaruh terhadap kebutuhan konsumsi, tetapi juga kebutuhan sanitasi, kebersihan, dan aktivitas masyarakat sehari-hari.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, SE., MM., menegaskan bahwa BPBD akan terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap wilayah yang mengalami kekurangan air bersih.
âKami terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan. Distribusi air bersih menjadi langkah cepat yang kami lakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Kami juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, relawan dan unsur terkait untuk melihat perkembangan kebutuhan di lapangan.â
Menurutnya, penanganan kekeringan tidak cukup hanya dilakukan melalui distribusi air secara insidental. Data mengenai jumlah KK terdampak, kondisi sumber air, kebutuhan harian serta perkembangan wilayah terdampak perlu terus diperbarui agar intervensi BPBD dapat dilakukan secara tepat sasaran.
âKami mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan menghemat persediaan air yang ada. Pemerintah desa juga kami harapkan terus melakukan pemantauan terhadap sumber-sumber air yang tersedia dan segera berkoordinasi apabila kondisi masyarakat mulai membutuhkan dukungan distribusi air bersih.â
Dua Orang Dalam Pencarian Akibat Laka Air
Selain kekeringan, perhatian serius BPBD juga tertuju pada kejadian laka air di Perairan Pasuruan yang dilaporkan pada Shift Malam.
Kejadian tersebut melibatkan dua orang yang pergi mencari ikan di sekitar wilayah Tong Biru, Perairan Sidoarjo. Berdasarkan laporan, keduanya berangkat sekitar pukul 02.00 WIB menggunakan perahu dengan kondisi mesin yang sudah tua dan membawa BBM berkapasitas sekitar lima liter.
Keduanya seharusnya kembali sekitar pukul 14.00 WIB, namun hingga waktu yang dilaporkan belum kembali. Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa.
BPBD Kabupaten Pasuruan telah melakukan pelaporan kepada pimpinan, koordinasi dengan perangkat desa serta assessment awal melalui TRC. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan jiwa dan membutuhkan penanganan serta koordinasi lintas unsur untuk mendukung proses pencarian.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan menekankan bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap aktivitas masyarakat di wilayah perairan.
âKami mengimbau kepada masyarakat, khususnya nelayan maupun warga yang melakukan aktivitas di perairan, agar selalu memperhatikan kondisi perahu, mesin, bahan bakar, alat keselamatan, komunikasi dan kondisi cuaca sebelum beraktivitas. Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama.â
BPBD juga mendorong agar setiap aktivitas melaut dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan pengalaman awak kapal serta memastikan komunikasi dengan keluarga atau pihak terkait apabila terjadi kondisi darurat.
Karhutla Arjuno-Welirang Tidak Ada Titik Api Aktif
Sementara itu, perkembangan positif datang dari pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Lembah Kijang, Gunung Arjuno-Welirang, Kecamatan Prigen.
Karhutla tersebut sebelumnya dilaporkan terjadi pada Sabtu, 29 Agustus 2026 sekitar pukul 09.00 WIB. Berdasarkan hasil koordinasi BPBD dengan pihak Tahura, pada Senin, 31 Agustus 2026 sudah tidak ditemukan titik api di kawasan Lembah Kijang.
Namun demikian, luas kawasan yang terbakar masih belum diketahui secara pasti. BPBD telah melakukan koordinasi dengan pimpinan, pihak Tahura dan Trantib Kecamatan Prigen.
Pemantauan SiPongi+ pada periode 31 Agustus 2026 juga menunjukkan tidak terdapat titik panas di wilayah Kabupaten Pasuruan. Kondisi ini menjadi indikator positif, tetapi pemantauan tetap perlu dilakukan mengingat kondisi musim kemarau masih berlangsung.
Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan menyampaikan bahwa berakhirnya titik api aktif bukan berarti kewaspadaan terhadap karhutla dihentikan.
âAlhamdulillah berdasarkan hasil koordinasi dan pemantauan, saat ini sudah tidak terdapat titik api di kawasan Lembah Kijang. Namun kami tetap meminta seluruh unsur untuk tidak lengah. Kondisi musim kemarau masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.â
BPBD akan terus berkoordinasi dengan pihak pengelola kawasan, pemerintah wilayah dan masyarakat sekitar untuk melakukan pemantauan terhadap kemungkinan munculnya kembali titik api.
Pohon Membahayakan Ditangani TRC
Kejadian lain yang ditangani BPBD adalah laporan pohon membahayakan di Dusun Winong, Desa Winong, Kecamatan Gempol.
Laporan diterima melalui Call Center 112 pada Senin, 31 Agustus 2026 pukul 10.06 WIB. Tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan, namun keberadaan pohon tersebut dinilai berpotensi membahayakan masyarakat sekitar.
TRC BPBD melakukan assessment dan penanganan serta berkoordinasi dengan pihak terkait.
Kejadian ini sekaligus menunjukkan pentingnya respons cepat terhadap potensi bahaya sebelum berkembang menjadi kejadian yang menimbulkan korban maupun kerusakan.
Cuaca Cerah, Ancaman Kekeringan dan Karhutla Tetap Diwaspadai
Berdasarkan prakiraan cuaca yang tercantum dalam laporan Pusdalops, kondisi Kabupaten Pasuruan pada 31 Agustus hingga 2 September 2026 didominasi cerah hingga cerah berawan, dengan suhu berkisar antara 20-31 derajat Celsius. Tidak terdapat peringatan dini cuaca untuk wilayah Kabupaten Pasuruan selama periode pemantauan.
Untuk wilayah perairan Pasuruan, tinggi gelombang pada periode pagi hingga sore diprakirakan sekitar 0,70-1,30 meter, sedangkan periode malam hingga pagi sekitar 0,50-1,00 meter. Klasifikasi gelombang berada pada kategori rendah hingga sedang dan tidak terdapat peringatan dini gelombang tinggi.
Meskipun kondisi cuaca relatif kondusif, BPBD tetap mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan potensi risiko. Cuaca cerah yang berlangsung cukup panjang dapat memperburuk kondisi kekeringan dan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
BPBD Perkuat Pemantauan 24 Jam
BPBD Kabupaten Pasuruan melalui Pusdalops-PB terus menjalankan fungsi pemantauan dan komunikasi kebencanaan secara berkelanjutan. Informasi dari masyarakat, perangkat desa, relawan, instansi terkait serta hasil pemantauan lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan.
Ke depan, BPBD akan terus memprioritaskan penanganan berdasarkan tingkat risiko dan dampak terhadap masyarakat, khususnya keselamatan jiwa, pemenuhan kebutuhan dasar, serta pencegahan agar kejadian tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
âKami mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari upaya penanggulangan bencana. Segera laporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan. Kecepatan informasi dari masyarakat sangat membantu BPBD dalam melakukan assessment dan menentukan langkah penanganan,â ujar Sugeng Hariyadi.
Dengan kondisi musim kemarau yang masih berlangsung, masyarakat Kabupaten Pasuruan diimbau untuk menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran yang berpotensi merembet ke lahan atau kawasan hutan, meningkatkan kewaspadaan terhadap pohon yang berpotensi tumbang, serta mengutamakan keselamatan ketika melakukan aktivitas di perairan.
BPBD Kabupaten Pasuruan memastikan bahwa pemantauan terhadap perkembangan situasi kebencanaan akan terus dilakukan dan respons lapangan akan disesuaikan dengan dinamika kondisi di masing-masing wilayah.
Komentar (0)