PASURUAN â Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi pada puncak musim kemarau. Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kabupaten Pasuruan pada 24 hingga 26 Agustus 2026, dua ancaman utama yang menjadi perhatian adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Karhutla Gunung Arjuno menjadi salah satu perhatian utama BPBD Kabupaten Pasuruan. Kebakaran yang pertama kali terpantau pada Rabu, 19 Agustus 2026 sekitar pukul 01.00 WIB tersebut hingga 25 Agustus masih terpantau di kawasan Lembah Kijang dan lereng Gunung Arjuno, Batu Ogal Agil.
Dalam perkembangan terakhir, titik api dilaporkan mengarah ke kawasan pelawangan atau jalur pendakian. BPBD bersama pihak Tahura dan Trantib Kecamatan Prigen terus melakukan koordinasi dan pemantauan, sementara Tim Reaksi Cepat (TRC) melaksanakan assessment lapangan. Hingga laporan terakhir, belum terdapat jiwa terdampak dan luas kawasan yang terbakar masih dalam proses pendataan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran berlangsung selama beberapa hari di kawasan dengan medan yang relatif sulit dijangkau. BPBD terus mengoptimalkan pemantauan perkembangan titik api serta koordinasi lintas instansi untuk mengantisipasi kemungkinan meluasnya kebakaran.
Selain Gunung Arjuno, kejadian karhutla juga terjadi di Kecamatan Purwodadi. Pada Selasa, 25 Agustus 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, kebakaran terjadi di kawasan Petak 40 A Tanaman Gembelina, Desa Lebakrejo. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.00 WIB.
Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 2,5 hektare kawasan tanaman Gembelina. Tidak terdapat korban jiwa maupun warga yang terdampak. Setelah menerima informasi, BPBD berkoordinasi dengan perangkat setempat, Perhutani dan Trantib Kecamatan Purwodadi, serta mengerahkan TRC untuk melakukan assessment.
Sementara itu, ancaman kekeringan masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan. Pada 24 Agustus 2026, BPBD mencatat kekeringan di Kecamatan Pasrepan, Lumbang dan Winongan akibat berkurangnya ketersediaan air bersih pada puncak musim kemarau.
Di Kecamatan Pasrepan, kekeringan tercatat di Desa Petung Dusun Precet sebanyak 90 KK, Desa Klakah Dusun Precet/Dongol sebanyak 430 KK, serta Desa Ngantungan Dusun Krajan sebanyak 257 KK. Total terdapat 777 KK yang terdampak.
Di Kecamatan Lumbang, kekeringan terjadi di Desa Karangjati Dusun Krajan Barat sebanyak 389 KK, Desa Watulumbung Dusun Sumbersari sebanyak 243 KK, dan Desa Watulumbung Dusun Krajan 2 sebanyak 230 KK. Total mencapai 862 KK.
Sedangkan di Kecamatan Winongan, kekeringan terjadi di Desa Kedungrejo Dusun Sumbertelor dengan jumlah terdampak sebanyak 231 KK.
Dengan demikian, berdasarkan data dalam laporan 24 Agustus 2026, sedikitnya 1.870 KK tercatat terdampak kekeringan di tiga kecamatan tersebut.
Untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih, TRC BPBD Kabupaten Pasuruan telah melaksanakan distribusi air bersih sebanyak dua ritase di masing-masing lokasi yang dilaporkan. Upaya tersebut dilakukan bersama perangkat desa sebagai bagian dari penanganan dampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, SE., MM., menegaskan bahwa kondisi musim kemarau membutuhkan kewaspadaan bersama, khususnya terhadap potensi karhutla dan kekeringan.
âPada kondisi puncak musim kemarau seperti saat ini, kita tidak boleh lengah. Karhutla dan kekeringan memiliki karakter risiko yang berbeda, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan respons cepat, pemantauan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor,â ujar Sugeng.
Menurutnya, BPBD akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan karhutla Gunung Arjuno serta memperkuat koordinasi dengan Tahura, Perhutani, pemerintah kecamatan dan desa, serta unsur terkait lainnya.
âUntuk karhutla Gunung Arjuno, kami terus memantau perkembangan titik api dan arah pergerakannya. Informasi mengenai api yang mengarah ke kawasan pelawangan atau jalur pendakian menjadi perhatian yang harus diantisipasi bersama. Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan perkembangan di lapangan dapat dipantau secara cepat,â jelasnya.
Terkait kekeringan, Sugeng mengatakan bahwa distribusi air bersih akan terus diarahkan kepada wilayah yang mengalami keterbatasan air, dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan masyarakat.
âDistribusi air bersih merupakan langkah penanganan langsung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, kita juga perlu melihat aspek jangka menengah dan panjang, terutama bagaimana memperkuat sumber air dan ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau,â tambahnya.
Di sisi lain, kondisi cuaca beberapa hari ke depan masih didominasi cerah hingga cerah berawan. Prakiraan 25-27 Agustus menunjukkan suhu sekitar 20-30 derajat Celsius, sementara tidak terdapat peringatan dini cuaca signifikan untuk wilayah Kabupaten Pasuruan pada periode laporan.
BPBD mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membakar sampah atau membuka lahan dengan cara pembakaran. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api di kawasan hutan dan lahan.
Selain itu, masyarakat di wilayah terdampak kekeringan diimbau untuk menggunakan air secara hemat dan melaporkan perkembangan kondisi sumber air kepada pemerintah desa atau BPBD sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat.
Status Gunung Bromo sendiri dalam laporan BPBD masih berada pada Level II (Waspada), sedangkan Gunung Arjuno-Welirang berada pada Level I (Normal) dan tidak terdapat laporan peningkatan aktivitas vulkanisme.
BPBD Kabupaten Pasuruan menegaskan bahwa menghadapi puncak musim kemarau membutuhkan sinergi seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola kawasan hutan, relawan, masyarakat hingga seluruh pemangku kepentingan.
âKunci menghadapi musim kemarau adalah kewaspadaan, kecepatan informasi dan kolaborasi. Kami mengajak masyarakat menjadi bagian dari sistem peringatan dini dengan segera melaporkan setiap potensi kebakaran maupun kondisi kekurangan air di wilayahnya,â pungkas Sugeng.
Komentar (0)