PUBLIKASI

Kabar dan informasi terbaru dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Kekeringan Makin Meluas, BPBD Pasuruan Distribusikan 18 Rit Air Bersih ke Lima Kecamatan

Kekeringan Makin Meluas, BPBD Pasuruan Distribusikan 18 Rit Air Bersih ke Lima Kecamatan

PASURUAN - Puncak musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan mencatat kekeringan terjadi di lima kecamatan, yakni Gempol, Kejayan, Winongan, Pasrepan dan Lumbang.

Berdasarkan Laporan Harian Pusdalops BPBD Kabupaten Pasuruan, Kamis (10/9/2026), kekeringan terjadi akibat berkurangnya ketersediaan air bersih selama puncak musim kemarau. BPBD melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung melakukan distribusi air bersih ke wilayah terdampak.

Di Kecamatan Gempol, kekeringan melanda Desa Bulusari, Dusun Jurang Pelen, dengan 354 kepala keluarga (KK) terdampak. Sebanyak dua ritase air bersih didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sementara di Kecamatan Kejayan, Desa Kedungpengaron, Dusun Krikilan, tercatat 127 KK terdampak dan mendapatkan dua ritase distribusi air bersih. Di Kecamatan Winongan, kekeringan tercatat di Desa Kedungrejo, masing-masing Dusun Krajan 5 sebanyak 50 KK dan Dusun Krajan 1 sebanyak 100 KK.

Pasrepan dan Lumbang Jadi Perhatian

Pasrepan menjadi salah satu wilayah dengan sebaran kekeringan cukup luas. Laporan Pusdalops mencatat enam titik terdampak di Desa Ngantungan, Sibon, Klakah dan Petung. BPBD melakukan enam ritase distribusi air bersih di wilayah tersebut.

Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Lumbang. Kekeringan dilaporkan melanda sejumlah titik di Desa Pancur, Karangjati dan Watulumbung. Penanganan dilakukan melalui enam ritase distribusi air bersih.

Secara keseluruhan, dalam periode laporan tersebut BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan 18 ritase distribusi air bersih ke lima kecamatan terdampak.

Sugeng: Distribusi Air Akan Terus Disesuaikan Kebutuhan

Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi, SE., MM., menegaskan bahwa penanganan kekeringan dilakukan dengan memprioritaskan masyarakat yang mengalami keterbatasan akses terhadap air bersih.

“BPBD terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang terdampak kekeringan. Distribusi air bersih kami lakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi di lapangan. Yang menjadi prioritas adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, tetap terpenuhi selama musim kemarau.”

Menurutnya, kondisi kekeringan perlu diantisipasi karena cuaca di Kabupaten Pasuruan masih didominasi kondisi cerah hingga berawan. Prakiraan cuaca 11 September menunjukkan suhu sekitar 21-32 derajat Celsius.

“Kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan segera melaporkan apabila kondisi sumber air mulai menurun atau kebutuhan air bersih semakin sulit diperoleh. Informasi dari masyarakat sangat penting untuk menentukan langkah penanganan di lapangan,” lanjut Sugeng.

Malam Hari Nihil Kejadian Baru

Di tengah penanganan kekeringan, situasi Kabupaten Pasuruan pada malam hari relatif kondusif. Laporan Pusdalops BPBD periode Kamis (10/9) pukul 19.00 WIB hingga Jumat (11/9) pukul 07.00 WIB mencatat nihil kejadian bencana maupun kejadian lain-lain.

Pemantauan titik panas juga menunjukkan hasil nihil. Sementara untuk aktivitas gunung api, Gunung Bromo masih berstatus Waspada Level II, sedangkan Gunung Arjuno-Welirang berada pada Level I atau Normal. Tidak terdapat laporan peningkatan aktivitas vulkanisme.

Meski situasi bencana baru relatif terkendali, ancaman kekeringan belum berakhir. Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, BPBD Kabupaten Pasuruan diperkirakan perlu mempertahankan pola distribusi air bersih sekaligus meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air.

Penanganan juga perlu diarahkan tidak hanya pada respons jangka pendek, tetapi secara bertahap menuju penguatan ketahanan air masyarakat melalui pemetaan sumber air, penyediaan cadangan air dan pengembangan sumber air alternatif di wilayah yang berulang kali terdampak.

Komentar (0)

Share :
Belum ada komentar

Tulis Disini