PUBLIKASI

Kabar dan informasi terbaru dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

BPBD Kabupaten Pasuruan Tingkatkan Kewaspadaan Kekeringan dan Kebakaran Lahan, 936 KK Terdampak

BPBD Kabupaten Pasuruan Tingkatkan Kewaspadaan Kekeringan dan Kebakaran Lahan, 936 KK Terdampak

PASURUAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi kering seiring berlangsungnya musim kemarau. Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Kabupaten Pasuruan periode Rabu, 5 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB hingga Kamis, 6 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, terdapat kejadian kekeringan di Kecamatan Winongan dan Lumbang serta kebakaran lahan di Kecamatan Gempol.

Kekeringan menjadi kejadian yang paling menonjol. Di Dusun Krajan V, Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, sebanyak 80 KK terdampak akibat berkurangnya ketersediaan air bersih. BPBD melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) telah melakukan distribusi air bersih sebanyak dua ritase.

Sementara di Desa Karangjati, Kecamatan Lumbang, kekeringan terjadi di Dusun Krajan Timur dengan jumlah terdampak 467 KK dan Dusun Krajan Barat sebanyak 389 KK. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang terdampak kekeringan pada tiga lokasi tersebut mencapai 936 KK. BPBD juga telah melakukan distribusi air bersih sebanyak dua ritase melalui TRC bersama perangkat setempat.

Selain kekeringan, BPBD juga menangani kebakaran lahan di Dusun Wonoayu, Desa Gempol, Kecamatan Gempol. Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 16.00 WIB dan api dilaporkan terus meluas karena kondisi angin yang cukup kencang. TRC BPBD melakukan assessment dan penanganan serta berkoordinasi dengan Damkar Kabupaten Pasuruan. Kejadian tersebut dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat.

Kalaksa: Kekeringan Harus Diantisipasi Sejak Dini

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, SE., MM., mengatakan bahwa kondisi kekeringan saat ini perlu mendapatkan perhatian serius karena memasuki periode musim kemarau. Menurutnya, distribusi air bersih merupakan langkah penanganan langsung, tetapi pemantauan terhadap perkembangan kondisi sumber air harus dilakukan secara berkelanjutan.

"Memasuki musim kemarau, kami terus melakukan pemantauan terhadap wilayah-wilayah yang mulai mengalami penurunan ketersediaan air bersih. Saat ini terdapat tiga lokasi yang terdampak kekeringan dengan total 936 KK, yaitu di Kecamatan Winongan dan Kecamatan Lumbang. BPBD bersama TRC dan perangkat setempat sudah melakukan distribusi air bersih sebagai langkah pemenuhan kebutuhan masyarakat," ujar Sugeng Hariyadi.


Ia menjelaskan, Kecamatan Lumbang menjadi perhatian khusus karena jumlah masyarakat terdampak cukup besar, yakni 856 KK di Dusun Krajan Timur dan Dusun Krajan Barat, Desa Karangjati.

"Kami memberikan perhatian lebih terhadap wilayah Lumbang karena jumlah KK yang terdampak cukup besar. Penanganan kekeringan tidak boleh hanya menunggu masyarakat mengalami kesulitan air, tetapi harus dilakukan dengan pemantauan dan assessment secara berkala. Kami akan terus melihat perkembangan kondisi di lapangan agar kebutuhan air bersih masyarakat dapat ditangani secara tepat," jelasnya.

Menurut Sugeng, pola penanganan kekeringan perlu dilakukan secara terukur. Data jumlah KK terdampak, kondisi sumber air, kebutuhan air harian, serta perkembangan musim kemarau menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas distribusi.

"Kami terus mendorong agar penanganan dilakukan berbasis data. Setiap wilayah memiliki karakter dan tingkat kebutuhan yang berbeda. Karena itu, data dari desa dan hasil assessment TRC menjadi dasar penting bagi BPBD dalam menentukan prioritas distribusi air bersih," tambahnya.


Waspadai Kebakaran Lahan

Sugeng juga menyoroti kejadian kebakaran lahan di Dusun Wonoayu, Kecamatan Gempol. Menurutnya, kondisi kemarau yang relatif kering perlu diikuti dengan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama ketika terdapat angin yang dapat mempercepat penyebaran api.

"Kejadian kebakaran lahan di Wonoayu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kondisi musim kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran. Apalagi ketika terdapat angin yang cukup kencang, api dapat dengan cepat meluas. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan," tegasnya.

BPBD, lanjut Sugeng, terus melakukan koordinasi dengan Damkar dan unsur terkait apabila terdapat laporan kebakaran. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila melihat adanya api atau asap yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

"Jangan menunggu api membesar. Apabila masyarakat melihat adanya kebakaran, segera laporkan melalui kanal yang tersedia sehingga petugas dapat melakukan assessment dan penanganan sedini mungkin. Kecepatan informasi sangat menentukan kecepatan respons di lapangan," katanya.


Cuaca Relatif Cerah, Kewaspadaan Tetap Dijaga

Berdasarkan laporan Pusdalops, kondisi cuaca pada 6 Agustus 2026 diprakirakan relatif cerah hingga cerah berawan dengan suhu sekitar 20-31 derajat Celsius. Tidak terdapat peringatan dini cuaca maupun peningkatan aktivitas vulkanisme selama periode laporan.

Gunung Bromo masih berada pada Level II (Waspada), sedangkan Gunung Arjuno-Welirang berada pada Level I (Normal). Tidak terdapat peningkatan aktivitas vulkanisme yang dilaporkan.

Kondisi aliran sungai juga masih normal dan belum menunjukkan indikasi ancaman banjir pada periode tersebut.

Meski demikian, Sugeng menegaskan bahwa kondisi cuaca yang relatif cerah bukan berarti masyarakat boleh mengurangi kewaspadaan.

"Kondisi cuaca saat ini memang relatif cerah dan tidak terdapat peringatan dini cuaca ekstrem, tetapi masyarakat tetap harus waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara mendadak. Pada saat yang sama, dalam kondisi kemarau seperti sekarang, perhatian kita juga harus diarahkan pada ketersediaan air bersih dan potensi kebakaran lahan," ungkapnya.

Ia mengajak masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, relawan, dan seluruh unsur terkait untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

"Kesiapsiagaan bencana adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menjaga sumber air, menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran sembarangan, serta segera menyampaikan informasi apabila menemukan potensi kejadian bencana," pungkas Sugeng.

BPBD Kabupaten Pasuruan memastikan monitoring wilayah dan kesiapsiagaan personel tetap dilakukan secara berkelanjutan, dengan fokus pada wilayah yang mulai mengalami kekeringan serta daerah yang memiliki potensi kebakaran lahan selama periode musim kemarau.

Status situasi Kabupaten Pasuruan secara umum masih terkendali, namun kewaspadaan perlu ditingkatkan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran lahan.

Komentar (0)

Share :
Belum ada komentar

Tulis Disini