Pasuruan - Data kejadian bencana di Kabupaten Pasuruan menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi sepanjang periode pencatatan. Dari total 567 kejadian bencana yang tercatat di 24 kecamatan, cuaca ekstrem atau angin kencang menjadi kejadian paling banyak dengan 188 peristiwa.
Berdasarkan data dari Pusdalops BPBD (Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulanga Bencana Daerah), selain cuaca ekstrem, banjir menempati urutan kedua dengan 142 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 117 kejadian. Sementara itu, kejadian lain yang juga cukup sering terjadi adalah pohon tumbang sebanyak 69 kejadian dan kejadian lainnya sebanyak 30 kejadian. Beberapa jenis bencana seperti kekeringan tercatat pada 12 lokasi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 9 kejadian.

Sementara itu, beberapa jenis bencana seperti banjir bandang, erupsi gunung api, gempa bumi, gelombang tinggi dan abrasi, serta kegagalan teknologi tidak tercatat terjadi dalam periode data tersebut.
Berdasarkan wilayah kecamatan, Kecamatan Winongan menjadi wilayah dengan jumlah kejadian bencana terbanyak yaitu 48 kejadian. Disusul Kecamatan Kraton dengan 40 kejadian, serta Kecamatan Bangil dengan 39 kejadian. Sementara Kecamatan Gempol dan Grati masing-masing mencatat 38 kejadian.
Di sisi lain, beberapa kecamatan memiliki jumlah kejadian relatif rendah. Kecamatan Nguling tercatat sebagai wilayah dengan kejadian paling sedikit yaitu 3 kejadian, diikuti Kecamatan Lekok sebanyak 10 kejadian dan Purwosari sebanyak 12 kejadian.


Jika dilihat dari karakteristik wilayah, kejadian tanah longsor banyak terjadi di wilayah dataran tinggi seperti Tosari, Tutur, Prigen, dan Purwodadi. Sedangkan banjir lebih banyak terjadi di wilayah dataran rendah dan kawasan permukiman seperti Winongan, Kraton, Grati, dan Beji.

Selain bencana yang tercatat dalam data tersebut, Kabupaten Pasuruan juga sempat mengalami fenomena tanah gerak di Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi. Peristiwa ini menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah.
Fenomena tanah gerak mulai dirasakan warga sejak akhir Januari 2025, ketika sejumlah rumah mengalami retakan pada dinding dan lantai akibat pergerakan tanah. Akibat kejadian tersebut, 47 rumah terdampak.
Dari jumlah tersebut, 16 rumah mengalami kerusakan paling parah karena berada dekat dengan tebing dan area yang rentan terhadap pergerakan tanah. Pemerintah daerah bersama BPBD dan berbagai pihak terus melakukan pemantauan serta kajian geologi untuk mengetahui penyebab pasti fenomena tersebut dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Para ahli menyebutkan bahwa pergerakan tanah dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti struktur geologi, retakan batuan, serta infiltrasi air hujan yang melemahkan struktur tanah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya pergeseran tanah di wilayah tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa faktor cuaca dan kondisi lingkungan masih menjadi penyebab utama terjadinya bencana di Kabupaten Pasuruan. Oleh karena itu, upaya mitigasi bencana, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, serta penguatan sistem peringatan dini sangat diperlukan untuk mengurangi dampak bencana di masa mendatang.
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini