Gambaran Umum

Kabupaten Pasuruan merupakan sebuah kawasan yang terletak antara 112,300 s/d 113,300 Bujur Timur dan antara 7,300  s/d 8,300  Lintang Selatan. Wilayah ini secara ekonomi mempunyai letak yang sangat strategis karena merupakan persimpangan jalan dari Surabaya – Malang, Surabaya – Probolinggo, maupun Probolinggo – Malang, yang selalu melalui jalur wilayah Kabupaten Pasuruan. Dengan letak yang demikian ini Kabupaten Pasuruan merupakan daerah yang amat strategis sekaligus merupakan daerah yang berpotensi dan rawan dengan kecelakaan lalulintas darat.

Luas Wilayah Kabupaten Pasuruan seluruhnya sejumlah + 147.401,50 Ha atau 1.474,02 Km2 yang terdiri dari : a) daerah pegunungan, b) perbukitan, c)dataran rendah, dan d) pantai.

Dengan luas wilayah yang sedemikian tersebut di atas hal ini jelas memiliki kelebihan maupun kekurangan, baik dari unsur Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia yang mendiaminya.     

Sedangkan batas wilayah Kabupaten Pasuruan sebagai berikut :

a)      Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Pasuruan, Kab. Sidoarjo dan Selat Madura ;

b)      Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo ;

c)      Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Malang ;

d)     Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto.

Berdasarkkan perbatasan wilayah yang ada tersebut, tentunya ada daerah-daerah yang rawan dan berpotensi dengan timbulnya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam, maupun faktor ulah manusia. Hal ini khususnya di wilayah perbatasan yang di dalamnya terdapat hunian penduduk, oleh karena bilamana terdapat bencana, maka upaya penanggulangannya harus ada aturan-aturan atau ketentuan-ketentuan serta mekanisme penanganan bencana yang mengikat di antara kedua belah pemerintah yang berbatasan wilayah, agar bencana yang timbul dampaknya dapat tertangani dengan baik, cepat, tepat, akurat, efektif, efisien, non diskriminatif baik pada saat pra bencana (pencegahan dan kesiapsiagaan), saat tanggap darurat (ada bencana), maupun pada saat pasca bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi). Untuk itulah perlu dibuatkan adanya nota kesepahaman dan nota kerja sama di antara kedua belah pihak pemerintah yang saling berbatasan langsung. Sampai saat ini Nota Kesepahaman yang telah dibuat dan perlu ditindak lanjuti dengan Perjanjian Kerjasama penanggulangan bencana antara lain adalah dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Pemerintah Kabupaten Malang. Sedangkan yang belum dibuat Nota Kesepahaman maupun Perjanjian Kerjasama sampai saat ini adalah dengan Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Pemerintah Kota Pasuruan, termasuk juga dengan dunia usaha yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan sendiri. Untuk itulah kedepan perlu segera dan secepatnya dilaksanakan koordinasi/kerjasama, oleh karena timbulnya bencana itu datangnya tidak diharapkan tetapi dapat diprediksi dan diketahui sebelumnya.

Secara Geomorfologi, Kabupaten Pasuruan terbagi atas 5 (lima) bagian, yaitu  kerucut gunung api, pegunungan, perbukitan, dataran pasir dan dataran rendah, masing-masing sebagai berikut :

a)      Kerucut gunung api disebelah barat dan tenggara, dengan ciri bentuk strato dan kerucut gunung api, berketinggian antara 2.000 – 3.350 m dpl. Puncaknya antara lain: Gunung Welirang, Arjuno, Ringgit dan Bromo.

b)      Pegunungan, ada di bagian barat dan barat laut, bercirikan strato dengan ketinggian 600 – 2.000 m dpl. Puncaknya antara lain adalah Gunung Penanggungan. Daerah ini sebagian besar masih tertutup semak dan hutan tropic dengan batuan piroklastika dan epiklastika.

c)      Perbukitan, bercirikan gelombang deretan bukit, pegunungan, atau pematang, berketinggian 25 – 600 m dpl. Puncak utamanya Gunung Baung, Gunung Tinggi, Gunung Pule, dengan aliran sungai yang menonjol adalah Sungai Welang. Daerah ini sebagian merupakan lahan pertanian dan perkebunan yang membentang dari wilayah Kecamatan Tosari dan Kecamatan Puspo sampai ke arah barat yaitu Kecamatan Tutur, Purwodadi dan Prigen.

d)     Dataran Pasir, terletak di dasar kawah Tengger berbentuk tapal kuda mengelilingi Gunung Bromo, dengan ketinggian 200 – 2.100 m dpl ;

e)      Dataran rendah, membentang di daerah bagian utara dan sekitar pantai utara. Dengan ketinggian 0 – 25 m dpl memiliki endapan alluvium yang membentang dari timur, yaitu wilayah Kecamatan Nguling, ke arah barat yaitu Kecamatan Lekok, Rejoso, Kraton, dan Bangil. Sebagian besar merupakan lahan pertanian, pertambakan, dan perkebunan, dengan sungai utamanya adalah Sungai Rejoso, Sungai Masangan dan Sungai Kedunglarangan.

Bilamana diitinjau dari jenis Geologi, maka wilayah di Kabupaten Pasuruan dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) kelompok besar, yaitu :  batuan permukaan, batuan sedimen dan batuan gunung api. Dengan banyaknya jenis batuan yang ada, menunjukkan bahwa Kabupaten Pasuruan merupakan daerah yang cukup kaya akan bahan tambang galian type C (pasir dan batu). Kita ketahui bahwa pada saat ini penggalian tambang C di wilayah perbukitan/pegunungan yang banyak mengandung pasir dilakukan oleh warga maupun perusahaan swasta secara cukup besar dan cenderung liar. Bilamana penggalian tersebut dilakukan secara serampangan tanpa kendali dan tanpa memperhatikan AMDAL serta tidak menerapkan manajemen resiko bencana, maka akan menimbulkan dampak berupa bencana yang cukup besar pula, yaitu banjir bandang, tanah longsor, serta timbulnya daerah rawan kekeringan. Oleh karena daerah resapan untuk sumber air di daerah perbukitan berpasir akan berkurang drastis, sehingga sumur-sumur warga yang biasanya masih ada pada saat musim kemarau tiba akan menjadi berkurang sekali (asat, kering).

Dari struktur Geologi, Kabupaten Pasuruan terbagi atas 3 (tiga) bagian yaitu :

a)      Daerah pegunungan dan berbukit, dengan ketinggian antara 180 s/d 1.300 m dpl. Daerah ini membentang dibagian selatan dan barat meliputi Kec. Lumbang, Kec. Puspo, Kec. Tosari, Kec. Tutur, Kec. Purwodadi, Kec. Prigen dan Kec. Gempol.

b)      Daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 6 s/d 91 m dpl. Dataran rendah ini berada dibagian tengah merupakan daerah yang subur.

c)      Daerah pantai, dengan ketinggian antara 2 m s/d 8 m dpl yang membentang dibagian utara meliputi Kec. Nguling, Kec. Rejoso, Kec. Kraton dan Kec. Bangil.

Menurut jenis struktur tanah, wilayah Kab. Pasuruan sebagian besar terdiri dari jenis sebagai berikut :

a)    Alluvial           sejumlah  23.192,50 ha

b)    Regosol           sejumlah  35.711,60 ha

c)    Grumosol        sejumlah    5.882,00 ha

d)   Mediteran        sejumlah  21.017,60 ha

e)    Latusol            sejumlah  36.183,50 ha

f)     Androsol         sejumlah  25.414,30 ha          

           Berdasarkan atas struktur geomorfologi dan geologi tersebut, maka ancaman bencana yang dapat timbul dan seringkali terjadi atas kondisi wilayah Kabupaten Pasuruan adalah :

       a)  tanah longsor untuk daerah pegunungan dan perbukitan, ketika musim penghujan tiba ;

b)  kekeringan kritis untuk daerah yang bertanah tandus dan berbatu, ketika musim kemarau berlangsung cukup lama ;

c)  bencana banjir/genangan banjir untuk daerah di dataran rendah disekitar DAS selama musim penghujan. Terutama curah hujan sedang s/d lebat di beberapa wilayah selatan dan lokal sekitarnya ;

d) angin puting beliung pada daerah lembah berbukit, ketika musim penghujan dan perubahan iklim tropik ;

Kondisi topografi merupakan salah satu kondisi fisik yang dapat mengetahui potensi dan kendala fisik perkembangan suatu kawasan/wilayah. Kondisi topografi erat kaitannya dengan letak ketinggian dan kemiringan lereng suatu lahan. Secara umum dapat di diskripsikan bahwa wilayah Kab. Pasuruan terhampar mulai dari daerah pantai dengan ketinggian 0 m dpl dibagian utara sampai pegunungan dengan ketinggian >2.000 m dpl dibagian selatan dengan morfologi bentang alam yang bervariasi mulai dari kemiringan lereng relative datar / sedikit bergelombang (0-8%) sampai dengan kelerengan yang cukup curam (>45%).

1.   Keadaan ketinggian

a)   Ketinggian 0 – 12,5 m dpl, meliputi luasan 18.819 ha atau sekitar 12,8 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kecamatan Gempol, Beji, Bangil, Rembang, Kraton, Pohjentrek, Gondangwetan, Rejoso, Winongan, Lekok dan Nguling.

b)   Ketinggian 12,5 – 25 m dpl, meliputi luasan 11.356,5 ha atau sekitar 7,7 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kecamatan Gempol, Beji, Bangil, Rembang, Kraton, Pohjentrek, Gondangwetan, Rejoso, Winongan, Grati, Lekok, Nguling dan Kejayan.

c)   Ketinggian 25 – 50 m dpl, meliputi luasan 16.353,6 ha atau sekitar 11,1 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kec. Gempol, Beji, Bangil, Rembang, Kraton, Gondangwetan, Winongan, Grati, Lekok, Nguling, Pandaan, Sukorejo, Wonorejo, Pasrepan dan Kejayan.

d)   Ketinggian 50 – 100 m dpl, meliputi luasan 13.448,2 ha atau sekitar 9,1 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kec. Gempol, Beji, Rembang, Grati, Nguling, Pandaan, Sukorejo, Wonorejo, Pasrepan, Lumbang dan Kejayan.

e)   Ketinggian 100 – 500 m dpl, meliputi luasan 39.011,2 ha atau sekitar 26,5 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kec. Gempol, Beji, Winongan, Pandaan, Sukorejo, Wonorejo, Pasrepan, Lumbang, Purwodadi, Tutur, Puspo, Purwosari, Prigen dan Kejayan.

f)   Ketinggian 500 – 1.000 m dpl, meliputi luasan 21.877,2 ha atau sekitar 14,8 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kec. Gempol, Pasrepan, Lumbang, Purwodadi, Tutur, Puspo, Purwosari, Prigen dan Tosari.

g)   Ketinggian 1.000 – 2.000 m dpl, meliputi luasan 18.615,1 ha atau sekitar 12,6 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kec. Gempol, Lumbang, Purwodadi, Tutur, Puspo, Purwosari, Prigen dan Tosari.

h)   Ketinggian di atas 2.000 m dpl, meliputi luasan 7.920,8 ha atau sekitar 5,4 % dari luasan wilayah Kabupaten Pasuruan yang tercakup pada sebagian wilayah Kec. Lumbang, Purwodadi, Tutur, Puspo, Purwosari, Prigen dan Tosari.      

 

2.      Keadaan kemiringan

Kemiringan atau kelerengan lahan/ tanah di wilayah Kabupaten Pasuruan adalah bervariasi mulai dari kelerengan 0 s/d >45 derajat. Secara morfologi bentang alam dapat di diskripsikan bahwa daerah yang memiliki kelerengan relative datar / sedikit bergelombang (0-8%) adalah seluas 85.257,6 ha atau sekitar 57,8 %; berombak (8-15 %) seluas 31.057,43 ha atau sekitar 21,4 %; berbukit (15-25 %) seluas 22.057,43 ha atau sekitar 15 %; curam (25-45 %) seluas 6.865,08 ha atau sekitar 4,7 %, dan sangat curam (>45%) seluas 1.747, 58 ha atau sekitar 1,2 % dengan sebaran sebagai berikut :

a)      Kemiringan 0 – 2 derajat mencakup seluruh wilayah Kecamatan Bangil, Rembang, Kraton, pohjentrek, Gondangwetan, Rejoso dan Lekok, sebagian wilayah Kecamatan Pasrepan, Kejayan, Wonorejo, Winongan, Grati dan Nguling.

b)      Kemiringan 2 – 5 derajat mencakup sebagian wilayah Kecamatan Purwodadi, Tosari, Lumbang, Pasrepan, Kejayan, Wonorejo, Purwosari, Prigen, Sukorejo, Pandaan, Gempol, Beji, Winongan, Grati dan Nguling.

c)      Kemiringan 5 – 8 derajat mencakup sebagian wilayah Kecamatan Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang, Pasrepan, Kejayan, Purwosari, Prigen, Sukorejo, Pandaan, Gempol, Beji, Winongan dan Lekok.

d)     Kemiringan 8 – 15 derajat mencakup sebagian wilayah Kecamatan Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang, Pasrepan, Kejayan, Purwosari, Prigen, Pandaan, Gempol, Winongan dan Grati.

e)      Kemiringan 15 – 25 derajat mencakup sebagian wilayah Kecamatan Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang, Pasrepan, Purwosari, Prigen, Gempol, dan Beji.

f)       Kemiringan 25 – 45 derajat mencakup sebagian wilayah Kecamatan Purwodadi, Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang, Purwosari, Prigen dan Gempol.

g)      Kemiringan diatas 45 derajat mencakup sebagian wilayah Kecamatan Tutur, Puspo, Tosari, Lumbang dan Prigen.

                       

Bilamana mencermati kondisi alam yang sangat bervariasi ketinggian dan kemiringan tersebut, maka daerah yang rawan dan berpotensi menimbulkan bencana tanah longsor adalah di daerah yang berbukit (kemiringan > 45 derajat) dengan struktur tanah liat sedikit berbatu dan tidak padas, banyak tanaman perdu dan sedikit tanaman pepohonan yang berakar kuat untuk menahan tanah bilamana ada guyuran hujan cukup deras pada musim penghujan tiba. Untuk itulah perlu adanya sistem pencegahan sejak dini di antaranya adalah penanaman pepohonan yang berakar kuat, tidak melakukan penebangan pepohonan yang sudah ada secara serampangan khususnya di daerah berbukit, pemberian informasi berupa tanda bahaya rawan longsor dan sejenisnya, penerapan sistem tera siring, penyuluhan pembuatan sistem drainase air buangan pada area pertanian/ perkebunan di perbukitan secara benar oleh pihak/dinas instansi terkait, serta penyuluhan-penyuluhan sejenis kepada warga secara intensif yang berhubungan dengan antisipasi dan pencegahan timbulnya bencana tanah longsor.   

Secara Hidrografis wilayah Kab. Pasuruan terdapat beberapa sungai yang cukup besar yaitu sungai Laweyan, Rejoso, Gembong, Welang, Petung, Masangan, Kedunglarangan, serta terbagi dalam 5 (lima) Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara di Selat Madura, yaitu :

a)      DAS Laweyan                  : bermuara di Desa Penunggul Kec. Nguling.

b)      DAS Rejoso                      : bermuara di wilayah Kec. Rejoso.

c)      DAS Welang                     : bermuara di Desa Pulokerto Kec. Kraton.

d)     DAS Petung                      : bermuara di Desa Karangpandan Kec. Rejoso. 

e)      DAS Kedunglarangan      : bermuara di Kelurahan Kalianyar Kec. Bangil.

      Ditinjau dari kondisi Hidrogeologi, Kabupaten Pasuruan mempunyai potensi air cukup berupa air permukaan dan air tanah. Selain potensi sungai terdapat danau dan sejumlah mata air. Danau Ranu Grati dengan volume efektif sebesar 5.013 m3 dan volume maksimum 5.217 m3 mampu mengeluarkan debit maksimum 463 liter/detik. Selain itu terdapat 471 sumber mata air yang tersebar di 24 kecamatan dengan debit air sampai 5.650 liter / detik. Di Kecamatan Winongan terdapat dua sumber air yaitu sumber air Umbulan dan Banyu Biru. Sumber air Umbulan merupakan sumber air terbesar dengan debit maksimum 5.650 liter/ detik, sedangkan sumber air Banyu Biru dengan debit maksimum 225 liter/ detik. Di lereng perbukitan juga terdapat sumur bor tertekan (artesis) dan non tertekan dengan debit sekitar 5 – 10 liter/ detik.

Dengan keadaan kondisi secara hidrogeologis tersebut, nyatalah bahwa daerah Kabupaten Pasuruan memang rawan da