Kekeringan Dan Cara Mengatasinya

Selasa, 13 Mei 2014 12:12:11 - oleh : admin
Kekeringan Dan Cara Mengatasinya

KEKERINGAN DAN CARA MENGATASINYA

Kemarau panjang yang berbuntut pada kekeringan merupakan kejadian yang telah menjadi langganan kita semua setiap tahun. Kejadian itu berulang, berulang, dan terus berulang. Fenomena ini menyebabkan kita semua, khususnya para petani, merasa was-was dan kalang kabut. Karena kekeringan, tanaman padi milik para petani terancam puso atau gagal panen sehingga merugi. Karena kekeringan, air bersih telah menjadi barang yang langka dan mahal sehingga harus ada biaya tambahan untuk membeli air. Karena itu, perlu ada penanganan khusus agar kita semua bisa terbebas dari ancaman kekeringan, khususnya bagi para petani.
Untuk tahun 2008 ini, fenomena kekeringan tampaknya sudah dimulai dan dampaknya juga sudah mulai dirasakan. Jawa Barat bagian timur yang merupakan salah satu sentra padi di Indonesia tidak luput dari ancaman kekeringan ini. Kabupaten Cirebon, misalnya, sedikitnya 1.500 ha tanaman padi terancam puso dengan ancaman kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Ini terjadi karena debit Bendung Rentang yang merupakan sumber pengairan bagi Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Indramayu kondisinya makin kritis. Bendungan yang letaknya di Kecamatan Jatitujuh, Kab. Majalengka ini, kini debit airnya airnya tinggal 14 meter kubik per detik. Kondisi yang sama dialami juga oleh Waduk Darma. Waduk yang merupakan sumber air bagi petani Cirebon ini, saat ini debitnya sudah menurun sehingga hanya mampu mengairi sawah pada bagian hulu dan tengah saja. Sementara daerah hilir – Kabupaten Cirebon – tidak kebagian pasokan air. Di perkirakan, kekeringan di Kabupaten Cirebon akan mencapai puncaknya pada bulan Juli mendatang.
Pada skala nasional, kekeringan tahun ini diperkirakan akan memberikan dampak yang lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Data dari Departemen Pertanian menginformasikan, selama musim tanam 2007 – 2008 atau periode Oktober – Maret, luas areal persawahan di Indonesia yang mengalami puso atau gagal panen diperkirakan mencapai 103.197 ha. Khusus untuk periode Januari – April 2008, luas kekeringan mencapai 14.300 ha dan puso 2.189 ha. Sementara pada musim tanam 2006 – 2007, areal persawahan yang mengalami puso seluas 75.249 ha. Dari data kedua periode tersebut, lahan persawahan yang mengalami puso telah meningkat sebesar 37,14 persen. Mengingat musim kemarau tahun ini baru saja dimulai, persentase sawah yang mengalami kekeringan kemungkinan besar akan meningkat lagi.
Untuk mempertahankan persediaan padi nasional dan menyelamatkan kehidupan para petani, perlu ada upaya penanganan kekeringan ini. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan meliputi: pertama, pembuatan embung. Sebagai penampung air hujan, embung dapat menjadi penyedia air pada saat musim kemarau tiba, terutama di awal musim kemarau. Keberadaan embung dapat menyelamatkan tanaman yang ”terjebak” oleh datangnya musim kemarau. Ketersediaan air dalam embung tergantung dari kapasitas embung itu sendiri. Dengan kata lain, semakin besar kapasitas embung, semakin lama air yang tersedia dan semakin banyak lahan yang bisa diairi.
Kedua, memperbaiki saluran dan sarana irigasi. Dewasa ini banyak sekali saluran irigasi yang kondisinya sudah rusak, temboknya retak-retak, dan lain-lain. Kondisi seperti ini akan memperbanyak kebocoran air di perjalanan. Sebab, air akan banyak meresap dan terbuang ke dalam tanah sehingga semakin ke hilir debit airnya makin berkurang. Karena itu, perbaikan saluran yang rusak dapat mempertahankan debit air dari hulu hingga ke tempat tujuan, hilir. Ketiga, mengatasi waduk dari pendangkalan. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pemeliharaan waduk adalah terjadinya pendangkalan. Pada tahap selanjutnya, pendangkalan dapat mengurangi kapasitas waduk dalam manampung volume air sehingga pada musim kemarau waduk cepat mengering. Salah satu penyebab pendangkalan adalah adanya sedimentasi butiran tanah yang di bawa oleh aliran sungai dari daerah hulu akibat rusaknya ekosistem hulu.
Keempat, melakukan penghijauan dan mengurangi konversi lahan di daerah hulu. Berkaitan dengan pendangkalan waduk, penghijauan dapat mengurangi terjadinya sedimentasi. Tanaman yang ditanam pada lahan-lahan kosong dapat menjaga/mengikat butiran tanah saat terjadi hujan. Tanaman yang rapat juga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, mengurangi aliran permukaan dan penguapan sehingga air tanah akan tersedia lebih lama. Dengan demikian, pasokan air untuk waduk tetap kontinyu dengan fluktuasi debit yang relatif kecil.
Sebaliknya, konversi lahan di derah hulu dapat mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap air hujan. Akibatnya, pada saat musim hujan, air akan lebih banyak dialirkan melalui permukaan dan pada saat musim kemarau air cepat mengering sehingga pasokan air ke waduk tidak kontinyu.
Kelima, memberikan peringatan dini akan terjadinya kekeringan. Peringatan dini oleh instansi pemerintah (nasional dan daerah) sangat penting dilakukan. Adanya peringatan dini dapat memberikan pertimbangan dan informasi bagi para petani kapan harus menanam dan kapan tidak boleh menanam, sehingga tanamannya tetap aman dan tidak terjebak oleh musim kemarau.Keenam, memberikan bantuan pompa air. Pada beberapa daerah, para petani memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pompa air. Pompa air sangat dibutuhkan pada saat pengadaan air dari irigasi tidak ada atau tidak mencukupi. Pada saat itu, salah satu upaya para petani dalam mengatasi kelangkaan air ini adalah dengan memompa air dari sungai-sungai atau sumber air sekitar. Karena itu, bantuan pengadaan pompa dari pemerintah dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadapi kekurangan air. Masalahnya, bahan bakar yang bisa menghidupkan mesin ini harganya telah melangit. Ketujuh, mengintensipkan pembuatan kincir air. Pada beberapa tempat di Indonesi, pembuatan kincir air pada aliran sungai sudah dilakukan guna mengatasi kekurangan air bagi lahan pertanian. Pembuatan kincir ini hendaknya disosialisasikan oleh pemerintah kepada daerah lain yang memiliki aliran sungai, tapi belum membuatnya. Meski pengadaan bahan bakunya murah dan mudah didapat, pembuatan kincir ini sering mendapat kendala, yakni mengeringnya sungai. Karena itu, penghijauan di daerah hulu merupakan hal yang sangat penting dilakukan dalam mengatasi kekurangan air akibat kekeringan.

Informasi "Berita SKPD" Lainnya